Senin, Mei 04, 2009

Makna Hari Kartini

Apa sih sebenarnya makna Hari Kartini itu? Seumur-umur mulai dari sekolah TK hingga saat ini telah berkeluarga dan mempunyai seorang anak baru terpikir tentang makna Hari Kartini, itu-pun setelah ditanya oleh anak. Selama ini saya hanya ikut berpartisipasi merayakannya, tetapi kurang menyadari apa makna yang ada di balik perayaan Hari Kartini itu sendiri. Apakah Anda juga mengalami hal yang sama? Tahukah Anda apa makna Hari Kartini? Lantas, apa jawaban yang akan Anda berikan apabila anak Anda bertanya tentang hal itu? Saya ingin berbagi pengalaman saya dengan Anda.
Meskipun sudah terlambat, namun saya tetap ingin berbagi pengetahuan dan pengalaman saya mengenai makna hari Kartini dengan Anda semua. Hari Kartini jatuh pada tanggal 21 April setiap tahunnya sesuai dengan tanggal kelahiran Raden Ajeng Kartini, sang pejuang emansipasi perempuan/kesetaraan gender. Untuk merayakan hari Kartini, setiap pegawai baik instansi pemerintah maupun swasta diwajibkan untuk mengenakan busana daerah, termasuk juga anak-anak sekolah baik di SMP, SD, maupun TK.

Pada tanggal 18 April 2009 yang lalu, Kecamatan Danurejan Yogyakarta menyelenggarakan lomba Kartini yang diikuti oleh sekolah TK se-kecamatan, termasuk sekolah anak saya yaitu TK ABA Lempuyangan. Seperti biasa untuk mempersiapkan segala sesuatunya, sayalah yang sibuk sebagai orang tua mulai dari memilih busana daerah, perias wajah hingga mengantarkan ke lokasi perlombaan. Anak sih tinggal ikut saja, karena senang dirias dan menggunakan busana yang belum pernah dikenakan sebelumnya.
Namun setelah perlombaan usai, anak saya dengan lugu bertanya pada saya, “Ma, koq hari Kartini mesti pakai baju seperti ini (baju daerah), kenapa sih Ma?”. Sontak saya kaget, koq bisa muncul pertanyaan seperti itu dari anak saya. Kaget, karena saya sendiri kurang mengerti jawaban apa yang harus saya berikan kepada anak saya. Untuk mengurangi rasa penasaran anak saya, kemudian saya memberikan jawaban seperti ini: “Jaman dulu, perempuan diharuskan mengenakan kebaya, termasuk juga ibu RA Kartini, tidak mengenakan rok atau celana panjang seperti kita sekarang. Jadi, untuk menghormati ibu Kartini, semua mengenakan kebaya pada saat perayaan hari Kartini. Dan karena ibu Kartini memperjuangkan hak kesetaraan semua perempuan di seluruh Indonesia, maka boleh mengenakan busana daerah lain selain kebaya.” Itulah jawaban yang terlintas dalam pikiran saya dan saya sampaikan kepada anak saya. Entah jawaban itu benar atau tidak, saya sendiri kurang tahu. Namun, setelah mendengar jawaban itu, anak saya hanya mengangguk-angguk saja….wah lega rasanya.

Meski anak saya sepertinya cukup puas dengan jawaban yang saya berikan, namun pertanyaan itu justru masih mengusik saya. Saya jadi penasaran, sebenarnya apa makna hari Kartini? Secara kebetulan saya melihat acara di salah satu televisi swasta yang menampilkan profil dan perjuangan seorang Kartini, sang putri Jepara (maaf, saya lupa tepatnya kapan). Setelah menyimak profil dan perjuangan Kartini, saya baru mengetahui apa yang diperjuangkan oleh Kartini yang kemudian menjadikannya dasar dari makna perayaan hari Kartini itu sendiri. Untuk mengetahui profil dan perjuangan Kartini selengkapnya baca di sini.

Kartini ingin mendobrak budaya patriarki yang berkembang sangat kuat di tengah-tengah masyarakat Jawa, dimana laki-laki lebih dominan dibandingkan perempuan dalam hal apapun baik rumah tangga, pekerjaan, hingga pendidikan. Dalam budaya tersebut, perempuan diposisikan sebagai orang yang sangat lemah dan harus “nrimo” (menerima) setiap perlakuan dan keputusan laki-laki. Pada intinya Kartini menginginkan kaumnya agar bisa mandiri dan bisa berdiri sejajar dengan kaum laki-laki dalam segala hal. Artinya, Kartini ingin posisi perempuan sejajar dengan laki-laki baik dalam hak dan kewajiban.

Lantas, bagaimana hasil dari perjuangan Kartini dalam kehidupan saat ini? Jika mau jujur, kaum perempuan belum sepenuhnya bisa mewujudkan cita-cita Kartini. Memang cukup banyak perempuan yang saat ini telah mandiri, memperoleh pendidikan tinggi, dan sukses meniti karir. Namun, tidak sedikit pula perempuan yang masih berada dalam posisi yang sangat jauh dari kesetaraan gender yaitu mereka yang menjadi korban pelecehan seksual, korban penjualan perempuan, korban kekerasan dalam rumah tangga, dan masih banyak lagi.

Di sini, saya ingin mengajak kaum perempuan untuk bangkit bersama, raih kemandirian dan perjuangkan hak untuk bisa sejajar dengan kaum laki-laki. Namun, hal itu tidak berarti perempuan memandang rendah dan bertindak seolah-olah tidak membutuhkan peran laki-laki. Mengapa demikian, karena kesetaraan gender yang dimaksudkan dan dicita-citakan adalah posisi kaum perempuan dan laki-laki yang saling menghormati, mendukung, menghargai, dan menjaga kebebasan masing-masing.

Kesimpulannya, untuk memaknai hari Kartini, kita sebagai kaum perempuan harus instropeksi diri tentang apa yang telah kita lakukan untuk meningkatkan derajat kaum kita sendiri. Apakah kita telah mandiri? Apakah kita posisi kita telah sejajar dengan kaum laki-laki baik dalam rumah tangga, bidang pekerjaan ataukah pendidikan? Jika belum, marilah kita tingkatkan kualitas diri kita dan tunjukkan bahwa kita mampu berperan aktif dalam setiap bidang kehidupan seperti halnya laki-laki. Selamat Hari Kartini kaum perempuan Indonesia!!!

1 komentar:

  1. Thks infonya...nambah pengetahuan, selama ini yang sy tahu hanya sebatas ibu Kartini sebagai pejuang emansipasi wanita saja, besok klo ditanya anak jd tahu jawabannya he..he...

    BalasHapus